Manchester United

GERMAS

SELAMAT DATANG, SEMOGA BERMANFAAT

UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT

berbagi ilmu pengetahuan.

PEMANFAATAN TANAMAN SEBAGAI REPELLENT (PENGUSIR) NYAMUK

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

PENYAKIT-PENYAKIT IRITASI SISTEM PERNAPASAN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

About

Monday, February 5, 2018

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA





A.    PENGERTIAN
1.      Kesehatan Kerja
Menurut Suma’mur (1976) Kesehatan kerja merupakan spesialisasi ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja/ masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun sosial dengan usaha preventif atau kuratif terhadap penyakit/ gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit umum.
Konsep kesehatan kerja dewasa ini semakin banyak berubah, bukan sekedar “kesehatan pada sektor industri” saja melainkan juga mengarah kepada upaya kesehatan untuk semua orang dalam melakukan pekerjaannya (total health of all at work).

2. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja atau Occupational Safety, dalam istilah sehari hari sering disebut dengan safety saja, secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Pengertian Kecelakaan Kerja (accident) adalah suatu kejadian atau peristiwa yang tidak diinginkan yang merugikan terhadap manusia, merusak harta benda atau kerugian terhadap proses.


B.     Determinan Kesehatan Kerja
Tujuan akhir dari usaha kesehatan kerja adalah untuk mencapai kesehatan masyarakat pekerja dan produktivitas kerja yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini diperlukan suatu prakondisi yang menguntungkan bagi masyarakat pekerja tersebut dengan mencakup 3 faktor utama, yaitu:
a.      Beban Kerja
Setiap pekerjaan apapun jenisnya apakah pekerjaan tersebut memerlukan kekuatan otot atau pemikiran adalah merupakan beban bagi yang melakukan. Dengan sendirinya beban ini dapat berupa beban fisik, beban mental ataupun beban sosial sesuai dengan jenis pekerjaan si pelaku. Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam hubungannya dengan beban kerja ini. Oleh sebab itu, penempatan seorang pekerja atau karyawan seharusnya setepat sesuai dengan beban optimum yang sanggup dilakukan. Tingkat ketepatan penempatan seseorang pada suatu pekerjaan, disamping didasarkan pada beban optimum, juga dipengaruhi oleh pengalaman, keterampilan, motivasi dan sebagainya.
         Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan atau pekerja dengan cara merencanakan atau mendesain suatu alat yang dapat mengurangi beban kerja. Contohnya alat untuk mempercepat pekerjaan tulis-menulis adalah mesin ketik.
b.      Beban Tambahan
Beban tambahan dapat berupa kondisi atau lingkungan yang tidak menguntungkan bagi pelaksanaan pekerjaan. Disebut beban tambahan karena lingkungan tersebut mengganggu pekerjaan dan harus diatasi oleh pekerja atau karyawan yang bersangkutan. Beban tambahan ini dapat dikelompokkan menjadi 5 faktor, yakni :
·         Faktor fisik, misalnya penerangan / pencahayaan yang tidak cukup, suhu udara yang panas, kelembaban yang tinggi atau rendah, suara yang bising, dan sebagainya.
·         Faktor kimia, yaitu bahan-bahan kimia yang menimbulkan gangguan kerja, misalnya bau gas, uap atau asap, debu dan sebagainya.
·         Faktor biologi, yaitu binatang atau hewan dan tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan pandangan tidak enak mengganggu, misalnya nyamuk, lalat, kecoa, lumut, taman yang tidak teratur, dan sebagainya.
·         Faktor fisiologis, yakni peralatan kerja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh atau anggota badan (ergonomic), misalnya meja atau kursi yang terlalu tinggi atau pendek.
·         Faktor sosial-psikologis, yaitu suasana kerja yang tidak harmonis, misalnya adanya klik, gosip, cemburu dan sebagainya.
Agar faktor-faktor tersebut tidak menjadi beban tambahan kerja atau setidak-tidaknya mengurangi beban tambahan tersebut maka lingkungan kerja harus ditata secara sehat atau lingkungan kerja yang sehat.
c.        Kemampuan Kerja
            Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan berbeda antara seseorang yang satu dengan yang lain, hal ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda. Kapasitas adalah kemampuan yang dibawa dari lahir oleh seseorang yang terbatas atau dapat dikatakan sebagai suatu wadah kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing individu. Kapasitas seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain gizi dan kesehatan ibu, genetik dan lingkungan. Selanjutnya kapasitas ini mempengaruhi atau menentukan kemampuan seseorang. Kemampuan seseorang dalam melakukan pekerjaan disamping kapasitas juga dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman, kesehatan, kebugaran, gizi, jenis kelamin dan ukuran-ukuran tubuh.
Kemampuan tenaga kerja pada umumnya diukur dari keterampilannya dalam melaksanakan pekerjaan. Semakin tinggi keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja, semakin efisien badan (anggota badan), tenaga dan pemikiran (mentalnya) dalam melaksanakan pekerjaan.

C.    Faktor Risiko di Tempat Kerja
Berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kondisi kesehatan kerja, seperti disebutkan diatas, dalam melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi bahaya serta resiko yang bisa terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan serta lingkungan disamping faktor manusianya.
Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian yang dapat dialami oleh tenaga kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut resiko. Baik “hazard” maupun “resiko” tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya pengendaliannya dilaksanakan dengan baik.

Sekarang kita akan mencoba membahas faktor-faktor tersebut :
1. Faktor Manusia
a. Latar Belakang Pendidikan
Latar belakang pendidikan banyak mempengaruhi tindakan seseorang dalam bekerja. Orang yang memiliki pendidikan yang lebih tinggi cenderung berpikir lebih panjang atau dalam memandang sesuatu pekerjaan akan melihat dari berbagai segi. Misalnya dari segi keamanan alat atau dari segi keamanan diri. Lain halnya dengan orang yang berpendidikan lebih rendah, cenderung akan berpikir lebih pendek atau bisa dikatakan ceroboh dalam bertindak. Misalnya Ketika kita melakukan pekerjaan yang sangat beresiko terhadap kecelakaan kerja tetapi kita tidak memakai peralatan safety dengan benar. Hal ini yang tentunya dapat menimbulkan kecelakaan.
b. Psikologis
Faktor Psikologis juga sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Psikologis seseorang sangat berpengaruh pada konsentrasi dalam melakukan suatu pekerjaan. Bila konsentrasi sudah terganggu maka akan mempengaruhi tindakan-tindakan yang akan dilakukan ketika bekerja. Sehingga kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.
Contoh faktor psikologis yang dapat mempengaruhi konsentrasi adalah :
·         Masalah-masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja.
·         Suasana kerja yang tidak kondusif.
·         Adanya pertengkaran dengan teman sekerja.
c. Faktor Keterampilan
Keterampilan disini bisa diartikan pengalaman seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan. Misalnya melakukan start/stop pada sebuah peralatan, memakai alat-alat keselamatan, dsb. Pengalaman sangat dibutuhkan ketika melakukan pekerjaan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang berakibat timbulnya kecelakaan kerja.

d. Faktor Fisik
Lemahnya kondisi fisik seseorang berpengaruh pada menurunnya tingkat konsentrasi dan motivasi dalam bekerja. Sedangkan kita tahu bahwa konsentrasi dan motivasi sangat dibutuhkan ketika bekerja. Bila sudah terganggu, kecelakaan sangat mungkin terjadi. Contoh faktor fisik ini adalah :
·         Kelelahan.
·         Menderita Suatu Penyakit.

2.      Faktor Alat
Kondisi suatu peralatan baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat itu sudah rusak, tentu saja dapat mengakibatkan kecelakaan. Contohnya adalah :
·         Perpipaan yang sudah tua.
·         Alat-alat safety yang sudah rusak.

Ditempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang pekerja juga sangat dipengaruhi oleh:
1.     Beban Kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan
2.     Kapasitas Kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya.
3.     Lingkungan Kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fisik, kimia, biologik, ergonomik, maupun aspek psikososial.

D.    Penyakit/ Kecelakaan Kerja
 
1.      Penyakit Kerja
Masalah kesehatan kerja adalah adanya penyakit yang timbul akibat kerja, penyakit akibat hubungan kerja ataupun kecelakaan akibat kerja, yang disebabkan adanya interaksi antara pekerja dengan alat, metode dan proses kerja serta lingkungan kerja.
“Ketika orang ambil pekerjaan, harus dipikirkan risikonya juga,” tutur dr. Bassilius Agung, Kepala Pukesmas Tanah Kali Kedinding dimana di wilayah kerjanya telah terdapat 6 buah pos UKK (Unit Kesehatan Kerja) untuk para pekerja informal atau para pengusaha kecil, seperti pengrajin, pekerja giras, atau pun warung-warung tegal.
Seperti yang dijelaskan oleh dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, PAK merupakan sebuah efek samping yang terjadi saat bekerja sehingga diperlukan sebuah sistem, yakni sitem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) pada setiap perusahaan. Maka untuk menunjang sistem tersebut, dibutuhkan APD (Alat Pelindung Diri). “APD saja belum cukup, diperlukan juga pengetahuan dari pekerja,” lanjut dr. Agung. Pengetahuan dari pekerja itu sendiri mengenai PAK ataupun mengenai risiko kerja sangat dibutuhkan. Sedangkan gambaran pekerjaan yang perlu diketahui adalah :
·         Jenis pekerjaan (saat ini dan sebelumnya)
·         Gerakan dalam bekerja
·         Tugas yang berat / berlebihan
·         Perubahan / pergeseran kerja
·         Iklim di tempat kerja

a.       Pengertian PAK
Penyakit Akibat Kerja / Occupational Disease adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan /Work Related Diseasea dalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam berkembangnya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks.
Penyakit yang Mengenai Populasi Kerja / Disease of Fecting Working Populations adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab ditempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.
b.      Penyebab Penyakit Akibat Kerja
Terdapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja, berikut beberapa jenisnya yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja.
1)      Golongan Fisik - bising, radiasi, suhu ekstrem, tekanan udara, vibrasi, penerangan
2)      Golongan Kimiawi - semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut
3)      Golongan Biologik - bakteri, virus, jamur dan lain-lain
4)      Golongan Fisiologik/Ergonomik - desain tempat kerja, beban kerja
5)      Golongan Psikososial - stres psikis, monotoni kerja, tuntutan pekerjaan, dan lain-lain
Di negara maju faktor fisik, biologi dan kimiawi sudah dapat dikendalikan, sehingga golongan fisiologik dan psikososial yang menjadi penyebab utama.

Beberapa Penyakit Akibat Kerja/Penyakit Akibat Hubungan Kerja
1)      Penyakit Saluran Pernafasan
PAK pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun kronis.
·         Akut misalnya asma akibat kerja.
·         Sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut atau karena virus.
·          Kronis, missal: asbestosis.
·         Seperti gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD).
·         Edema paru akut.
·         Dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti nitrogen oksida.

2)      Penyakit Kulit
·         Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam kehidupan, kadang sembuh sendiri.
·         Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit yang berhubungan dengan pekerjaan.
·         Penting riwayat pekerjaan dalam mengidentifikasi iritan yang merupakan penyebab, membuat peka atau karena faktor lain.

3)      Kerusakan Pendengaran
·         Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan kebisingan yang lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan.
·         Riwayat pekerjaan secara detail sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan gangguan pendengaran.
·         Dibuat rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran.

4)      Gejala pada Punggung dan Sendi
·         Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada punggung yang berhubungan dengan pekerjaandaripada yang tidak berhubungan dengan pekerjaan
·         Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan.
·         Artritis dan tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar.

5)      Kanker
·         Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus Kanker yang disebabkan oleh pajanan di tempat kerja.
·         Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen sering kali didapat dari laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi.
·         Pada Kanker pajanan untuk terjadinya karsinogen mulai > 20 tahun sebelum diagnosis.

6)      Coronary Artery Disease
Oleh karena stres atau Carbon Monoksida dan bahan kimia lain di tempat kerja
  
7)      Penyakit Liver
·         Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus atau sirosis karena alkohol.
·         Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.


8)      Masalah Neuropsikiatrik
·         Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering diabaikan
·         Neuro pati perifer, sering dikaitkan dengan diabet, pemakaian alkohol atau tidak diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena penyalahgunaan zat-zat atau masalah psikiatri.
·         Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari stres yang berhubungan dengan pekerjaan.
·         Lebih dari 100 bahan kimia (a.I solven) dapat menyebabkan depresi SSP.
·         Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah, merkuri, methyl, butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer.
·         Carbon disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.

9)      Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya
·         Alergi
·         Gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau lingkungan
·         Sick building syndrome
·         Multiple Chemical Sensitivities (MCS), mis: parfum, derivate petroleum, rokok.

c.       Pencegahan PAK
Mengetahui keadaan pekerjaa, dan kondisinya seperti yang telah dijelaskan di atas dapat menjadi salah satu pencegahan terhadap PAK. Selanjutnya sebelum dr. Agung menutup wawancara, Ia juga memberikan beberapa tips dalam mencegah PAK, diantaranya:
·         Pakailah APD secara benar dan teratur
·         Kenali risiko pekerjaan dan cegah supaya tidak terjadi lebih lanjut.
·          Segera akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yang berkelanjutan.
 


                                                  APD (Alat Pelindung Diri)


Selain itu terdapat juga beberapa pencegahan lain yang dapat ditembuh agar bekerja bukan menjadi lahan untuk menuai penyakit. Hal tersebut berdasarkan Buku Pengantar Penyakit Akibat Kerja, diantaranya:

1)      Pencegahan Primer – Health Promotion
·         Perilaku Kesehatan
·         Faktor bahaya di tempat kerja
·         Perilaku kerja yang baik
·         Olahraga
·         Gizi seimbang
2)      Pencegahan Sekunder – Specifict Protection
·         Pengendalian melalui perundang-undangan
·         Pengendalian administrative/organisasi: rotasi/pembatasan jam kerja
·         Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri (APD)
·         Pengendalian jalur kesehatan: imunisasi
3)      Pencegahan Tersier
Early Diagnosis and Prompt Treatment
·         Pemeriksaan kesehatan pra-kerja.
·         Pemeriksaan kesehatan berkala.
·         Surveilans.
·         Pemeriksaan lingkungan secara berkala.
·         Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada pekerja.
·         Pengendalian segera di tempat kerja.


E.     Penutup
1.      Kesimpulan
Dari pembahasan makalah ini kami dapat menyimpulkan bahwa proteksi atau perlindungan perusahan terhadapt karyawan sangat penting dilakukan proteksi atau perlindungan ini akan semakin mengingkatkan kesejahtraan, kesehatan dan terutama keselamatan kerja karyawan.
Keselamatan kerja menunjuk kepada kondisi – kondisi fisiologis-fisikal dan pisiologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan. Jika sebuah perusahaan melaksanakan tindakan – tindakan keselamatan yang efektif, maka tidak akan ada lagi kecelakaan dalam pekerja hal ini akan lebih mempercepat kesejahtraan karyawan yang nantinya juga berimbas pada hasil – hasil produksi perusahaan ini
Peranan departemen sumber daya manusia dalam keselamatan kerja merupakan peranan yang sangat vital dalam perusahaan, departemen inilah yang merencanakan program keselamatan kerja karyawan sampi dangan pelaksanaannya.

2.      Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah sebagia berikut :
Perusahaan dalam hal ini manajer SDM harus merencanakan atau membuat program yang berkesinambungan mengenai keselamatan kerja karyawan. Perusahaan hendaknya tidak tinggal diam apabila ditemukan terjadi kecelakaan pada saat karyawan bekerja.
Kecelakaan pada saat bekerja merupakan resiko yang merupakan bagian dari pekerjaan, untuk utu perusahaan hendaknya mencegah dalam hal ini melakukan proteksi atau perlindungan berupa kompensasi yang tidak dalam bentuk imbalan, baik langsung maupun tidak langsung, yang diterapkan oleh perusahaan kepada pekrja. Proteksi atau perlindungan pekerja merupakan keharusan bagi sebuah perushaan.

Post By Khairul Amal

Tuesday, January 30, 2018

JKN vs KUALITAS MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT

JKN vs KUALITAS MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT

Kesehatan merupakan kunci dari sebuah kehidupan, semakin sehat seseorang maka kualitas hidup seseorang semakin baik namun sebaliknya jika kesehatan seseorang terganggu maka kemungkinan kualitas hidup seseorang menjadi tidak baik. Teori Hendrik L Blum mengatakan bahwa status kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 aspek pokok, yaitu :a)Lingkungan, b)prilaku, c) Fasilitas Pelayanan Kesehatan, d)Keturunan. Keempat aspek tersebut mempunya peranan penting dalam rangka menjaga status kesehatan masyarakat. fokus pada pembahasan ini adalah pada fasilitas pelayanan kesehatan.

Kemampuan masyarakat dalam menjangkau fasilitas pelayanan kesehatan sangat tergantung dari kemampuan finansialnya. Mahalnya biaya untuk mengakses pelayanan kesehatan membuat sebagian masyarakat tidak bisa mengakses pelayanan tersebut. Indonesia pada tahun 2015 menurut data dari BPS bahwa persentase penduduk miskin di Indonesia mencapai 11,22%. Angka tersebut bukanlah angka yang kecil mengingat penduduk Indonesia saat ini mencapai 255,2 juta jiwa (SUPAS, 2015). Hal tersebut berarti 28,8 juta jiwa penduduk Indonesia adalah penduduk miskin.
Menyikapi hal tersebut, sesuai dengan amanat UUD 1945 bahwa Negara bertanggung jawab untuk mensejahterakan rakyatnya termasuk dalam bidang kesehatan, pemerintah meluncurkan sebuah terobosan dengan membentuk sebuah badan penyelengggaraan jaminan sosial yang bertanggungjawab dalam mengelola asuransi kesehatan yang diberinama JKN terhitung sejak 1 januari 2014. sebelum era JKN, pemerintah juga memiliki beberapa asuransi kesehatan untuk masyarakat miskin, salah satunya adalah Jamkesmas. Perbedaan antara asuransi tersebut terletak pada sistem pembiayaannya, dimana era jamkesmas pembiayaan kesehatan dilakukan menggunakan metode fee for service sementara itu pada era JKN pembiayaan dilakukan dengan merode Case Mix yang telah disusun oleh para ahli dan di Indonesia dinamakan sebagai INA-CBGs.
Perbedaan metode pembiayaan tersebut merupakan sebuah masalah yang paling diperhatikan oleh setiap manajemen rumah sakit. Pada era Fee For service, setiap tindakan yang dilakukan di rumah sakit bisa mendapatkan klaim. Namun tidak demikian dengan Case Mix, dimana pembayaran klaim dilakukan berdasarkan tariff INA-CBGs yaitu pembayaran dilakukan perpaket berdasarkan diagnose yang diderita oleh pasien. Metode case mix mengharuskan pihak rumah sakit untuk tidak melakukan tindakah yang tidak begitu penting dalam menunjang kesembuhan pasien. Hal tersebut dikarenakan pihak manajemen berusaha untuk menekan biaya operasional sehingga pengeluaran rumah sakit bisa diimbangi oleh pendapatan.  
Berubahnya peraturan maka berubah pula syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Sebagian rumah sakit di Indonesia mengakui rumitnya proses pengklaiman dana jasa layanan dari BPJS. Bahkan, sebagian rumah sakit telah resmi memutuskan kerjasama dengan BPJS Kesehatan. Data yang diperoleh dari salah satu rumah sakit di Aceh menjelaskan bahwa tidak semua pasien yang di klaim pelayanannya disetujui oleh BPJS. Berbagai macam alasan yang mendasari BPJS untuk tidak menerima klaim tersebut, mulai dari ketidak sesuaian diagnosa dan tindakan yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan ketetapan INA_CBGs, persyaratan, dan lain-lain. Data dari salah sau rumah sakit di Aceh menunjukkan bahwa hanya sebesar 95% dari klaim yang diajukan disetujui oleh BPJS. Bahkan jika dibandingkan dengan tarif rumah sakit tersebut, dana jasa layanan dari BPJS kesehatan hanya membayar rumah sakit sebesar 65%. Pertanyaannya adalah bagaimana kualitas mutu pelayanan bisa terjamin jika dana terbatas?
Sejak berlakunya JKN, kualitas mutu pelayan dipertaruhkan. Rumah Sakit sangat gencar dalam melakukan efisiensi. Efisiensi dilakukan dengan berbagai macam cara, mulai dari usaha mempersingkat waktu perawatan, mengurangi resep obat, mengurangi pemeriksaan penunjang dan lain-lain. Menjamin mutu dan kualitas pelayanan yang baik bukanlah perkara yang mudah, selain dana yang terbatas, perilaku petugas pelayanan menjadi hal paling penting untuk di perhatikan.

Strategi untuk mensiasati hal tersebut adalah dengan menginterfensi petugas kesehatan untuk mengaplikasikan pelayanan kesehatan semaksimal mungkin. Mulai dari pelayanan yang baik dengan melakukan pendekatan secara holistik dengan pasien, diagnosa yang tepat, kenyamanan pasien berobat dan lain-lain, sehingga kepastian layanan menjadi lebih baik dan diharapkan dengan begitu proses kesembuhan pasien menjadi lebih cepat. Untuk memastikan hal tersebut berjalan dengan baik, pihak manajemen perlu melakukan evaluasi dan monitoring secara terus menerus dan dilakukan sesering mungkin terhadap kinerja petugas pelayanan kesehatan. Proses tersebut bisa di adopsi dari  konsep deming cycle. metode ini sangatlah cocok untuk dipergunakan untuk skala kecil, kegiatan continues improvement untuk memperpendek siklus kerja. Metode ini fokus pada siklus kecil sehingga pemantauan terhadap proses pelayanan kepada pasien menjadi lebih baik. Peran kepala ruangan sangat penting sebagai tangan kanan dari manajemen rumah sakit. Terakhir adalah walau sistem telah berubah masyarakat hanya punya satu keinginan yaitu mendapatkan pelayanan yang baik dengan mendapat kepastian layanan sehingga diharapkan proses penyembuhan penyakit menjadi lebih cepat.

Monday, January 1, 2018

UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT

UPAYA PENCEGAHAN PENYAKIT




PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Pengertian pencegahan secara umum adalah mengambil tindakan terlebih dahulu sebelum kejadian. Dalam mengambil langkah-langkah pencegahan, haruslah didasarkan pada data atau keterangan yang bersumber dari hasil analisis dari epidemiologi. Pencegahan penyakit  berkembang secara terus menerus dan pencegahan tidak hanya ditujukan pada penyakit infeksi saja, tetapi pencegahan penyakit non-infeksi, seperti yang dianjurkan oleh James Lind yaitu makanan sayur dan buah segar untuk mencegah penyakit scorbut. Bahkan pada saat ini pencegahan dilakukan pada fenomena non-penyakit seperti pencegahan terhadap ledakan penduduk dengan keluarga berencana.
Upaya preventif/pencegahan adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi berasal dari bahasa latin, praevenire, yang artinya datang sebelum atau antisipasi, atau mencegah untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas, prevensi diartikan sbegai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya ganggguan, kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat. (Notosoedirdjo dan Latipun, 2005 : 145).
Usaha pencegahan penyakit secara umum dikenal berbagai strategi pelaksanaan yang tergantung pada jenis, sasaran serta tingkat pencegahan. Dalam strategi penerapan ilmu kesehatan masyarakat dengan prinsip tingkat pencegahan seperti tersebut di atas, sasaran kegiatan diutamakan pada peningkatan derajat kesehatan individu dan masyarakat,  perlindungan terhadap ancaman dan gangguan kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta masalah kesehatan, serta usaha rehabilisasi lingkungan.
 Tujuan pencegahan penyakit adalah menghalangi perkembangan penyakit dan kesakitan sebelum sempat berlanjut. Sehingga diharapkan upaya pencegahan penyakit ini mampu menyelesaikan masalah kesehatan di masyarakat dan menghasilkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

B.    Tujuan
Berdasarkan permasalahan maka tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai konsep pencegahan penyakit dan memahami tingkatan pencegahan serta memahami bagaimana cara dan upaya pencegahan penyakit.

PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pencegahan
Pencegahan adalah mengambil suatu tindakan yang diambil terlebih dahulu sebelum  kejadian, dengan didasarkan pada data / keterangan yang bersumber dari hasil analisis epidemiologi atau hasil pengamatan / penelitian epidemiologi (Nasry, 2006). Pencegahan merupakan komponen yang paling penting dari berbagai aspek kebijakan publik (sebagai contoh pencegahan kejahatan, pencegahan penyalahgunaan anak, keselamatan berkendara), banyak juga yang berkontribusi secara langsung maupun tidak langsung untuk kesehatan.
Konsep pencegahan adalah suatu bentuk upaya sosial untuk promosi, melindungi, dan mempertahankan kesehatan pada suatu populasi tertentu (National Public Health Partnership,  2006).

B.      Tingkat Pencegahan
Salah satu kegunaan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit adalah untuk dipakai dalam merumuskan dan melakukan upaya pencegahan. Artinya, dengan mengetahui perjalanan penyakit dari waktu ke waktu serta perubahan yang terjadi di setiap masa/fase, dapat dipikirkan upaya-upaya pencegahan apa yang sesuai dan dapat dilakukan sehingga penyakit itu dapat dihambat perkembangannya sehingga tidak menjadi lebih berat, bahkan dapat disembuhkan. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.
Ada empat tingkat utama dalam pencegahan penyakit, yaitu :
1.      Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)
·         Pemantapan status kesehatan (underlying condition)
2.      Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
·         Promosi kesehatan (health promotion)
·         Pencegahan khusus
3.      Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
·         Diagnosis awal dan pengobatan tepat (early diagnosis and prompt treatment)
·         Pembatasan kecacatan (disability limitation)

4.      Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
·         Rehabilitasi (rehabilitation).

Pencegahan tingkat awal dan pertama berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis, sedangkan pencegahan tingkat kedua dan ketiga sudah berada dalam keadaan pathogenesis atau penyakit sudah tampak.

Tingkat Pencegahan Dan Kelompok Targetnya Menurut Fase Penyakit
Tingkat pencegahan
Fase penyakit
Kelompok target
Primordial
Kondisi normal kesehatan
Populasi total dan kelompok terpilih
Primary
Keterpaparan factor penyebab khusus
Populasi total dan kelompok terpilih dan individu sehat
Secondary
Fase patogenesitas awal
Pasien
Tertiary
Fase lanjut (pengobatan dan rehabilitasi)
Pasien
Sumber : Beoglehole, WHO 1993






Hubungan Kedudukan Riwayat Perjalanan Penyakit, Tingkat Pencegahan Dan Upaya Pencegahan
Riwayat penyakit
Tingkat pencegahan
Upaya pencegahan
Pre-patogenesis
Primordial prevention
Primary prevention
Underlying condition
Health promotion
Specific protection
Patogenesis
Secondary prevention


Tertiary prevention
Early diagnosis and prompt treatment
Disability limitation
Rehabilitation
Sumber : Beoglehole, WHO 1993

Salah satu teori public health yang berkaitan dengan pencegahan timbulnya penyakit dikenal dengan istilah 5 Level Of Prevention Against Diseases. Leavel dan Clark dalam bukunya Preventive Medicine For The Doctor In His Community mengemukakan adanya tiga tingkatan dalam proses pencegahan terhadap timbulnya suatu penyakit. Kedua tingkatan utama tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
1)      Fase sebelum sakit
Fase pre-pathogenesis dengan tingkat pencegahan yang disebut pencegahan primer (primary prevention). Fase ini ditandai dengan adanya keseimbangan antara agent (kuman penyakit/ penyebab), host (pejamu) dan environtment (lingkungan).
2)      Fase selama proses sakit
Fase pathogenesis, terbagi dalam 2 tingkatan pencegahan yang disebut pencegahan sekunder (secondary prevention) dan pencegahan tersier (tertiary prevention).  Fase ini dimulai dari pertama kali seorang terkena sakit yang pada akhirnya memiliki kemungkinan sembuh atau mati. 




Tingkat pencegahan penyakit:
1.      Pencegahan tingkat Dasar (Primordial Prevention)
Pencegahan tingkat dasar merupakan usaha mencegah terjadinya risiko atau mempertahankan keadaan risiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.
 Tujuan primordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup social-ekonomi dan cultural yang mendorong peningkatan risiko penyakit . upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular yang  dewasa ini cenderung menunjukan peningkatannya.
Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan kebiasaan atau pola hidup yang sudah ada dalam masyarakat yang dapat mencegah meningkatnya risiko terhadap penyakit dengan melestarikan pola atau kebiasaan hidup sehat yang dapat mencegah atau mengurangi tingkat risiko terhadap penyakit tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum. Contohnya seperti memelihara cara makan, kebiasaan berolahraga, dan kebiasaan lainnya dalam usaha mempertahankan tingkat risiko yang rendah terhadap berbagai penyakit tidak menular.
Selain itu pencegahan tingkat dasar ini dapat dilakukan dengan usaha mencegah timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah generasi yang sedang tumbuh untuk tidak melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan risiko terhadap berbagai penyakit seperti kebiasaan merokok, minum alkhohol dan sebagainya. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini terutama kelompok masyarakat usia muda dan remaja dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok manula. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pencegahan awal ini diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau factor risiko dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Factor-faktor itu tampaknya banyak bersifat social atau berhubungan dengan gaya hidup atau pola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang positif yang dapat melindungi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatan yang sudah baik.
Dari uraian diatas dapat dimengerti bahwa usaha pencegahan primordial ini sering kali disadari pentingnya apabila sudah terlambat. Oleh karena itu, epidemiologi sangat penting dalam upaya pencegahan penyakit.

2.      Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Pencegahan tingkat pertama merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit (Eko budiarto, 2001). Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) dilakukan dengan dua cara : (1) menjauhkan agen agar tidak dapat kontak atau memapar penjamu, dan (2) menurunkan kepekaan penjamu. Intervensi ini dilakukan sebelum perubahan patologis terjadi (fase prepatogenesis). Jika suatu penyakit lolos dari pencegahan primordial, maka giliran pencegahan tingkat pertama ini digalakan. Kalau lolos dari upaya maka penyakit itu akan segera dapat timbul yang secara epidemiologi tercipta sebagai suatu penyakit yang endemis atau yang lebih berbahaya kalau tumbuldalam bentuk KLB.
Pencegahan tingkat pertama merupakan suatu usaha pencegahan penyakit melalui usaha-usaha mengatasi atau mengontrol faktor-faktor risiko dengan sasaran utamanya orang sehat melalui usaha peningkatan derajat kesehatan secara umum (promosi kesehatan) serta usaha pencegahan khusus terhadap penyakit tertentu. Tujuan pencegahan tingkat pertama adalah mencegah agar penyakit tidak terjadi dengan mengendalikan agent dan faktor determinan. Pencegahan tingkat pertama ini didasarkan pada hubungan interaksi antara pejamu (host), penyebab (agent atau pemapar), lingkungan (environtment) dan proses kejadian penyakit.
Pejamu (host)                    :
perbaikan status gizi, status kesehatan dan pemberian imunisasi.
Penyebab (agent)               :
menurunkan pengaruh serendah mungkin seperti dengan  penggunaan desinfeksi, pasteurisasi, sterilisasi, penyemprotan insektisida yang dapat memutus rantai penularan.
Lingkungan (environment):
perbaikan lingkungan fisik yaitu dengan perbaikan air bersih, sanaitasi lingkungan dan perumahan.
Usaha pencegahan penyakit tingkat pertama secara garis besarnya dapat dibagi dalam usaha peningkatan derajat kesehatan dan usaha pencegahan khusus. Usaha peningkatan derajat kesehatan (health promotion) atau pencegahan umum yakni meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat secara optimal, mengurangi peranan penyebab dan derajat risiko serta meningkatkan lingkungan yang sehat secara optimal. contohnya makan makanan bergizi seimbang, berperilaku sehat, meningkatkan kualitas lingkungan untuk mencegah terjadinya penyakit misalnya, menghilangkan tempat berkembang biaknya kuman penyakit, mengurangi dan mencegah polusi udara, menghilangkan tempat berkembang biaknya vektor penyakit misalnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes atau terhadap agent penyakit seperti misalnya dengan memberikan antibiotic untuk membunuh kuman.
Adapun usaha pencegahan khusus (specific protection) merupakan usaha yang ter-utama ditujukan kepada pejamu dan atau pada penyebab untuk meningkatkan daya tahan maupun untuk mengurangi risiko terhadap penyakit tertentu. Contohnya yaitu imunisasi atau proteksi bahan industry berbahaya dan bising, melakukan kegiatan kumur-kumur dengan larutan Flour untuk mencegah terjadinya karies pada gigi. Sedangkan terhadap kuman penyakit misalnya mencuci tangan dengan larutan antiseptic sebelum operasi untuk mencegah infeksi, mencuci tangan dengan sabun sebelum makan untuk mencegah penyakit diare. 
Terdapat dua macam strategi pokok dalam usaha pencegahan primer, yakni : (1) strategi dengan sasaran populasi secara keseluruhan dan (2) strategi dengan sasaran hanya terbatas pada kelompok risiko tinggi. Strategi pertama memiliki sasaran lebih luas sehingga lebih bersifat radikal, memiliki potensi yang besar pada populasi dan sangat sesuai untuk sasaran perilaku. Sedangkan pada strategi kedua, sangat mudah diterapkan secara individual, motivasi subjek dan pelaksana cukup tinggi serta rasio antara manfaat dan tingkat risiko cukup baik.


Pencegahan pertama dilakukan pada masa sebelum sakit yang dapat berupa :
a)      Penyuluhan kesehatan yang intensif.
b)      Perbaikan gizi dan penyusunan pola menu gizi yang adekuat.
c)      Pembinaan dan pengawasan terhadap pertumbuhan balita khususnya anak-anak, dan remaja pada umumnya.
d)     Perbaikan perumahan sehat.
e)      Kesempatan memperoleh hiburan yang sehat untuk memungkinkan pengembangan kesehatan mental maupu sosial.
f)       Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab.
g)      Pengendalian terhadap faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu penyakit.
h)      Perlindungan terhadap bahaya dan kecelakaan kerja.
Pencegahan primer merupakan upaya terbaik karena dilakukan sebelum kita jatuh sakit dan ini adalah sesuai dengan “konsep sehat” yang kini dianut dalam kesehatan masyarakat modern.

3.      Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
   Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui diagnosis dini untuk menemukan status patogeniknya serta pemberian pengobatan yang cepat dan tepat. Tujuan utama pencegahan tingkat kedua ini, antara lain untuk mencegah meluasnya penyakit menular dan untuk menghentikan proses penyakit lebih lanjut, mencegah komplikasi hingga pembatasan cacat. Usaha pencegahan penyakit tingkat kedua secara garis besarnya dapat dibagi dalam diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis and promt treatment) serta pembatasan cacat.
            Tujuan utama dari diagnosa dini ialah mencegah penyebaran penyakit bila penyakit ini merupakan penyakit menular, dan tujuan utama dari pengobatan segera adalah untuk mengobati dan menghentikan proses penyakit, menyembuhkan orang sakit dan mencegah terjadinya komplikasi dan cacat. Cacat yang terjadi diatasi terutama untuk mencegah penyakit menjadi berkelanjutan hingga mengakibatkan terjadinya kecacatan yang lebih baik lagi.  
Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adalah menemukan penderita secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini meliputi : (1) pemeriksaan berkala pada kelompok populasi tertentu seperti pegawai negeri, buruh/ pekerja perusahaan tertentu, murid sekolah dan mahasiswa serta kelompok tentara, termasuk pemeriksaan kesehatan bagi calon mahasiswa, calon pegawai, calon tentara serta bagi mereka yang membutuhkan surat keterangan kesehatan untuk kepentingan tertentu ; (2) penyaringan (screening) yakni pencarian penderita secara dini untuk penyakit yang secara klinis belum tampak gejala pada penduduk secara umum atau pada kelompok risiko tinggi ; (3) surveilans epidemiologi yakni melakukan pencatatan dan pelaporan sacara teratur dan terus-menerus untuk mendapatkan keterangan tentang proses penyakit yang ada dalam masyarakat, termasuk keterangan tentang kelompok risiko tinggi.
Selain itu, pemberian pengobatan dini pada mereka yang dijumpai menderita atau pemberian kemoprofilaksis bagi mereka yang sedang dalam proses patogenesis termasuk mereka dari kelompok risiko tinggi penyakit menular tertentu.

4.      Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)
Pencegahan pada tingkat ketiga ini merupakan pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit tertentu, dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan utamanya adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti pengobatan dan perawatan khusus penderita kencing manis, tekanan darah tinggi, gangguan saraf dan lain-lain serta mencegah terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta usaha rehabilitasi.
Rehabilitasi merupakan usaha pengembalian fungsi fisik, psikologis dan sosial seoptimal mungkin yang meliputi rehabilitasi fisik/medis (seperti pemasangan protese), rehabilitasi mental (psychorehabilitation) dan rehabilitasi sosial, sehingga setiap individu dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif dan berdaya guna.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Upaya pencegahan yang dapat dilakukan akan sesuai dengan perkembangan patologis penyakit itu dari waktu ke waktu, sehingga upaya pencegahan itu di bagi atas berbagai tingkat sesuai dengan perjalanan penyakit.
Dalam epidemiologi dikenal ada empat tingkat utama pencegahan penyakit, yaitu :
·         Pencegahan tingkat awal (Priemodial Prevention)
·         Pencegahan tingkat pertama (Primary Prevention)
·         Pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention)
·         Pencegahan tingkat ketiga (Tertiary Prevention)
penanggulangan penyakit menular (control) adalah upaya untuk menekan peristiwa penyakit menular dalam masyarakat serendah mungkin sehingga tidak merupakan gangguan kesehatan bagi masyarakat tersebut. Penanggulangan penyakit menular dapat pula dikelompokan pada tiga kelompok sesuai dengan sasaran utamanya yang meliputi: sasaran langsung melawan sumber penularan atau reservoir, sasaran ditunjukan pada cara penularan penyakit, dan sasaran yang ditunjukan terhadap pejamu dengan menurunkan kepekaan pejamu.

B.     Saran
Untuk  mencegah penyakit, diharapkan kepada setiap orang untuk meningkatkan kualitas kesehatan dalam hidupnya, sehingga kita bisa mencegah tanda-tanda timbulnya penyakit pada diri kita.



Daftar Pustaka
Bustan, MM 1997. Epidemiologi penyakit Tidak Menular.
         Jakarta : Rineka Cipta
Bustan MN. 2002. Pengantar epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Murti, Bisma. 2003. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi kedua) Jilid Pertama. Yogyakarta: Gajahmada University Press.
Prof Bhisma Murti  http://fk.uns.ac.id/s tatic/materi/ Pengantar_epidemiologi_-_Prof_Bhisma_Murti.pdf ( diakses tanggal 18 Januari 2016)

Member