Manchester United

GERMAS

SELAMAT DATANG, SEMOGA BERMANFAAT

About

Monday, January 1, 2018

1000 Hari Pertama Kehidupan

1000 Hari Pertama Kehidupan

Oleh
Joni Saputra

A. Pendahuluan

Indonesia merupakan Negara dengan kejadian beban ganda penyakit atau yang biasa disebut dengan double burden of diseases. Kondisi tersebut merupakan kondisi dimana prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat sedangkan prevalensi penyakit menular menurun namun tidak mengalami perubahan yang signifikan dan masih dalam perhatian serius pemerintah. Saat ini, penyakit tidak menular atau
Sumber Gambar : My Magazine
non communicable diseases merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia bahkan di dunia. Data WHO menjelaskan bahwa non communicable diseases merupakan penyebab kematian utama di dunia, dimana 60% kematian di dunia dalam setahun disebabkan oleh penyakit tidak menular. Sementara itu, 80% kematian akibat penyakit tidak menular terjadi pada Negara dengan penghasilan rendah dan menengah
(Uauy et al., 2011).
Perkembangan penyakit NCD di Indonesia setiap tahun semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan data Riskesdas (2013), di Indonesia 20 juta orang terkena penyakit paru menahun, 5 juta orang terkena diabetes, 4 juta orang terkena penyakit jantung, 3 juta orang terkena kanker dan 3 juta orang terkena stroke. Proporsi angka kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9% pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Kematian akibat PTM terjadi di perkotaan dan perdesaan. Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke) menyerang usia produktif. Sementara itu prevalensi PTM lainnya cukup tinggi, yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan cedera (7,5%)
Banyak faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya transisi epidemiologi di Indonesia. Prevalensi penyakit non communicable diseases (NCD) yang terus mengalami peningkatan menjadi masalah yang sangat serius terhadap pembangunana kesehatan di Indonesia. Kejadian penyakit NCD belakangan ini sering dikaitkan dengan 1000 hari kelahiran pertama, konsep DOHaD, serta teori barker dan perinatal epidemiology. Hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa kualitas dari sebuah generasi ditentukan oleh generasi sebelumnya. Oleh sebab itu, ketiga konsep tersebut diatas merupakan konsep penting lahirnya sebuah generasi yang berkualitas, baik secara intelektual maupun secara fisiknya (Kesehatan).

B. Pembahasan

1. 1000 Hari Pertama Kehidupan

Istilah “the first thousand  days” atau 1000 hari pertama kehidupan diperkenalkaan pertama kalinya oleh WHO (World Health Organization) pada tahun 2010 dalam program "Scalling-up  Nutrition  (SUN)  Movement" atau Gerakan Peningkatan Nutrisi demi  mensukseskan  gerakan Millenium Development  Goals  (MDGs) di tingkat dunia yang memiliki peran penting dalam peningkatan kualitas kehidupan manusia dimasa dewasa (Yuwono, 2015). Adapun pengertian dari 1000 hari pertama kehidupan adalah masa dimulainya terlambat haid seorang wanita sampai dengan lahirnya seorang bayi dan umur bayi mencapai tepat dua tahun.
Status gizi masyarakat sering digambarkan dengan besaran masalah gizi pada kelompok anak balita. Kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan fisik dan perkembangan mental serta kecerdasan, bahkan dapat menjadi penyebab kematian(Achadi et al., 2012). Dampak dari defisiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Anak yang kurang gizi mengalami penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini akan menimbulkan perkembangan anak yang buruk. Keadaan gizi kurang mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak, yang akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak.  Kegiatan pemantauan balita gizi kurang atau buruk merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui dengan cepat kasus gizi buruk di masyarakat.
Masalah gizi dapat terjadi pada seluruh kelompok umur, bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur tertentu akan mempengaruhi status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya (intergenerational impact). Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia. Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Indeks beratnya masalah gizi balita menurut World Healty Organization (WHO) didasarkan pada masalah gizi buruk, wasting dan stunting yang ditemukan pada suatu wilayah survey. Prevalensi wasting (kurus) dikatakan tinggi bila diatas 10-14% dan sangat tinggi bila ≥ 15%, dan prevalensi stunting (pendek) dikatakan tinggi bila diatas 30-39% dan  ≥ 40%. Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada anak balita masih 12,1 persen, yang artinya masalah kurus di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius (Riskesdas, 2013). Dilihat dari beratnya masalah gizi menurut WHO, maka masalah gizi pada anak balita di Indonesia tergolong sangat tinggi dan menjadi masalah yang sangat serius untuk ditangani.
Perkembangan terkini menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa janin dan usia 2 tahun pertama kehidupan berpengaruh sangat penting terhadap risiko terjadi berbagai penyakit tidak menular yang kronis pada usia dewasa (Achadi et al., 2012). Penyataan tersebut didukung oleh pernyataan Murti (2011) yang menyatakan bahwa hasil-hasil studi epidemiologi sepanjang hayat (life course epidemilogy) menunjukkan fondasi kesehatan di usia dewasa telah diletakkan sejak dini pada awal kehidupan sebelum dan setelah kelahiran.  Dampak malnutrisi pada masa anak-anak terhadap orang dewasa di Indonesia dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Adianti Handajani, Betty Roosihermiatie, Herti Maryani, 2010).
Untuk itu, perlu dilakukan intervensi sejak dini untuk mencegah  terjadinya defisiensi gizi pada masa-masa awal kehidupan terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) untuk meminimalkan terjadinya kasus penyakit kronik degeneratif pada masa dewasa. Penelitian Shrimpton et al. (2001) menjelaskan bahwa Intervensi selama awal periode kehidupan, sebelum lahir dan selama masa bayi dan awal masa anak-anak cenderung memiliki dampak terbesar dalam mencegah kekurangan gizi anak. Jenis intervensi termasuk pendidikan gizi, budaya diet yang tepat dan serta konseling gizi.
Gizi dan kesehatan anak mulai ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua, terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Achadi et al. (2012) menjelaskan periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun pertama kehidupanberpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber daya manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitas fisik, tetapi juga kualitas kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.
Masalah gizi di Indonesia selama ini masih menjadi prioritas utama pemerintah. Berdasarkan  hasil  Riset  Kesehatan  Dasar  (Riskesdas  tahun  2010),  persentase  BBLR  di Indonesia sebesar 8,8 persen, anak balita pendek sebesar 35,6 persen, anak balita kurus sebesar 13,3 persen, anak balita gizi kurang sebesar 17,9 persen, dan anak balita gizi lebih sebesar 12,2 persen. Hasil riset ini menunjukkan bahwa bangsa kita memilki beban  gizi  yang bersifat ganda,  dimana salah satu sisi mengalami kekurangan gizi sedangkan di sisi lain mengalami kelebihan gizi. Adapaun akibat yang ditimubulak daria masalaaha tersebut bisa dalam jangka pendek atau jangka panjang yang semuanya mempengaruhi kehidupan negara Indonesia. Adapun masalah yang ditimbulkan dalam jangka pendek yaitu terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang dampak buruk yang timbul yaitu menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua. Hal-hal tersebut akan menurunkan kualitas sumber  daya manusia Indonesia, produktifitas, dan daya saing bangsa(Depkes, 2013).
Masa 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) yaitu masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan ditambah 730 hari (2 tahun pertama) pasca lahir. Pada masa ini merupakan masa-masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pasca lahir dan dewasa, karena sebagian besar organ dan sistem tubuh  terbentuk pada periode ini.  Menurut (Achadi et al., 2012) Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama yang berhubungan sangat erat dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan janin dan bayi direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh kritis dan dampak jangka panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin semakin dipertegas oleh berbagai bukti pendukung. Menurut Wilkinson dan Marmot, (2003) dalam Murti (2011) menyatakan bahwa keadaan yang buruk selama kehamilan, seperti defisiensi nutrisi selama kehamilan, stres maternal, olahraga yang tidak cukup (ibu hamil juga memerlukan senam), dan perawatan prenatal yang tidak memadai, dapat menyebabkan perkembangan fetus yang tidak optimal. Perkembangan fetus yang buruk merupakan resiko kesehatan pada kehidupan selanjutnya.
Dampak malnutrisi pada masa anak-anak terhadap orang dewasa adalah dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Nurhaedar Jafar, 2011). Penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif sejak beberapa dasawarsa silam telah menjadi segmentasi permasalahan tersendiri bagi tiap negara di seluruh dunia. Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi global penyakit degeneratif.
Di Indonesia transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Penyakit degeneratif merupakan penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya (Adianti Handajani, dkk., 2010). Lebih lanjut dikatakan oleh Achadi et al. (2012) prevalensi berbagai penyakit tidak menular di Indonesia tergolong tinggi, antara lain hampir sepertiga penduduk dewasa menderita penyakit tekanan darah tinggi. Oleh sebab itu, pada masa yang akan datang, Indonesia dihadapkan pada beban yang berat akibat biaya penatalaksanaan yang tinggi dan produktivitas penduduk yang rendah akibat penyakit tersebut. Sehingga Indonesia menanggung beban gandapenyakit di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi masih merajalela dan ditambah lagi dengan penyakit penyakit kronik degeneratif.
Achadi et al. (2012) menjelaskan bahwa keterlambatan pertumbuhan pada seribu hari pertama tersebut menyebabkan perubahan permanen pada bayi. Apabila setelah periode tersebut terjadi perubahan lingkungan yang mendukung pertumbuhan yangcepat, maka tubuh dan fungsiorgan tidak dapat menyesuaikan diri sehinggameningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama yangberhubungan sangat erat dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan janin dan bayi direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh kritis dandampak jangka panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin semakin dipertegas oleh berbagai buktim pendukung. Hasil penelitian Kattula et al. (2014) menyatakan bahwa Efek gizi kurang di dalam kandungan dapat memanjang ke 3 generasi, seperti diindikasikan oleh hubungan antara ukuran TB nenek dan berat badan lahir bayi yg dilahirkan oleh wanita dalam studi kohor tersebut.

2. Teori Developmental Origins Of Health And Disease (DOHaD)

Konsep Development Origins of Health and Disease (DOHaD) Merupakan sebuah konsep yang dalam mempersiapkan kehamilan dengan mempertimbangkan keseimbangan gizi pada fase awal kehidupan. Kualitas kesehatan seseorang ketika hidup sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diasup ibu sebelum dan selama kehamilan. Para ibu yang kekurangan gizi terutama pada masa kehamilan beresiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka anak beresiko menderita pengakit kronis (NCD) pada saat dewasa (Uauy et al., 2011).
Pemenuhan asupan vitamin yang seimbang merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga nutrisi ibu selama masa atau pasca kehamilan. Status vitamin yang memadai merupakan prasyarat untuk pembangunan kesehatan pada awal kehidupan yang juga akan mempengaruhi orang kesehatan dan kesejahteraan saat dewasa. Sebuah diet seimbang yang sehat selama kehamilan dan menyusui bayi adalah sumber terbaik dalam memperoleh nutrisi penting dalam pemenuhan gizi untuk wanita hamil (Elmadfa & Meyer, 2012).
Barker (2007) menemukan ada serangkaian tahapan yang kritis dalam perkembangan anak. Jika tahapan tersebut dilalui tidak sempurna maka akibatnya akan timbul di kemudian hari saat anak dewasa dan tua. Masalah kesehatan yang muncul bisa ditelusuri kembali dengan melihat riwayat saat si anak di dalam rahim atau perkembangannya yang buruk di 2 tahun usia pertamanya. Barker memberi contoh ibu yang mengonsumsi gizi buruk saat hamil, merokok, stres atau minum obat-obatan akan mempengaruhi seberapa baik plasenta bekerja dan bagaimana kondisi berat badan bayinya saat lahir. Barker (2007) juga menjelaskan hasil penelitiannya menunjukkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg maka peluangnya terkena penyakit jantung di kemudian hari, 2 kali lebih besar dibandingkan bayi yang lahir dengan berat sampai 4,2 Kg.
Barker (2007) juga menjelaskan ketika makanan di rahim tidak mencukupi, itu sangat mempengaruhi pertumbuhan awal otak si janin dan membuat jantungnya melemah karena berkurangnya aliran darah. Lalu bibit-bibit diabetes juga akan muncul sebelum proses kelahiran karena sel-sel pankreas yang berfungsi membuat insulin, perkembangannnya ada di dalam rahim. Kondisi di dalam rahim juga akan mempengaruhi berat badan si anak di masa mendatang. Banyak faktor-faktor yang terbentuk sejak dini yang tidak bisa diubah atau dibatalkan. Maka itu penting untuk menjaga kesehatan perempuan dan makan dengan baik agar generasi berikutnya tumbuh dengan baik.

3. Asosiasi NCD Dengan 1000 Hari Pertama kehidupan Dan DOHaD kaitannya dengan NCD

Tingginya angka NCD belakangan ini bersamaan dengan lambatnya pertumbuhan status gizi di Indonesia, Transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Penyakit degeneratif merupakan penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya (Adianti Handajani, dkk., 2010).
Gizi dan kesehatan anak mulai ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua, terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Achadi et al. (2012) menjelaskan periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun pertama kehidupanberpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber daya manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitas fisik, tetapi juga kualitas kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.
Konsep Development Origins of Health and Disease (DOHaD) Merupakan sebuah konsep yang dalam mempersiapkan kehamilan dengan mempertimbangkan keseimbangan gizi pada fase awal kehidupan. Kualitas kesehatan seseorang ketika hidup sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diasup ibu sebelum dan selama kehamilan. Para ibu yang kekurangan gizi terutama pada masa kehamilan beresiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka anak beresiko menderita pengakit kronis (NCD) pada saat dewasa (Uauy et al., 2011).
1000 hari pertama kehidupan dan DOHaD diasosiasikan memiliki hubungan dengan pola pertumbuhan, komposisi struktur tubuh dan akhirnya mempengaruhi pola penyakit yang terjadi di usia dewasa, selanjutnya berat badan lahir rendah yang diakibatkan oleh diabetes meningkatkan resiko metabolik, tekanan darah, penyakit cardiovasculer dan kematian. Penerapan gizi seimbang dalam 1000 hari pertama kelahiran menyesuaikan dengan kondisi bayi pada saat dalam kandungan agar pada saat kelahiran bayi tersebut tidak mendapatkan asupan gizi berlebihan sesuai dengan kondisi sebelumnya. 1000 hari pertama kelahiran bertujuan untuk meningkatkan gizi janin dalam masa intra uterin  sehingga tidak lahir dalam kondisi BBLR dan jika hal ini pun terjadi maka seorang ibu harus memberikan asupan gizi secara bertahap tidak berlebihan agar bayi tidak menjadi obesitas dalam waktu singkat(Uauy et al., 2011).

C. Kesimpulan

Keadaan kasus penyakit NCD yang semakin memprihatinkan membuat ahli epidemiologi berpikir untuk membuat trobosan baru dalam mengatasi penyakit tersebut. Konsep 1000 hari pertama kehidupan merupakan konsep yang diciptakan dengan tujuan untuk mempersiapkan kehamilan ibu serta di asosiasikan dengan konsep DOHaD dimana asupan gizi yang seimbang merupakan faktor penting bagi ibu hamil baik sebelum dan selama kehamilan.


Referensi













0 comments:

Post a Comment

Member