1000 Hari Pertama Kehidupan
Oleh
A. Pendahuluan
Indonesia merupakan Negara
dengan kejadian beban ganda penyakit atau yang biasa disebut dengan double burden of diseases. Kondisi
tersebut merupakan kondisi dimana prevalensi penyakit tidak menular terus
meningkat sedangkan prevalensi penyakit menular menurun namun tidak mengalami
perubahan yang signifikan dan masih dalam perhatian serius pemerintah. Saat
ini, penyakit tidak menular atau
non
communicable diseases merupakan penyebab kematian terbanyak di Indonesia
bahkan di dunia. Data WHO menjelaskan bahwa non
communicable diseases merupakan penyebab kematian utama di dunia, dimana
60% kematian di dunia dalam setahun disebabkan oleh penyakit tidak menular.
Sementara itu, 80% kematian akibat penyakit tidak menular terjadi pada Negara
dengan penghasilan rendah dan menengah(Uauy et al., 2011).
![]() |
| Sumber Gambar : My Magazine |
Perkembangan
penyakit NCD di Indonesia setiap tahun semakin mengkhawatirkan. Berdasarkan
data Riskesdas (2013), di Indonesia 20 juta
orang terkena penyakit paru menahun, 5 juta orang terkena diabetes, 4 juta
orang terkena penyakit jantung, 3 juta orang terkena kanker dan 3 juta orang
terkena stroke. Proporsi
angka kematian akibat PTM meningkat dari 41,7% pada tahun 1995 menjadi 49,9%
pada tahun 2001 dan 59,5% pada tahun 2007. Penyebab kematian tertinggi dari
seluruh penyebab kematian adalah stroke (15,4%), disusul hipertensi, diabetes,
kanker, dan penyakit paru obstruktif kronis. Kematian akibat PTM terjadi di
perkotaan dan perdesaan. Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan,
kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan
di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke)
menyerang usia produktif. Sementara itu prevalensi PTM lainnya cukup tinggi,
yaitu: hipertensi (31,7%), arthritis (30.3%), penyakit jantung (7.2%), dan
cedera (7,5%)
Banyak faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya transisi epidemiologi di Indonesia. Prevalensi penyakit non communicable diseases (NCD) yang
terus mengalami peningkatan menjadi masalah yang sangat serius terhadap
pembangunana kesehatan di Indonesia. Kejadian penyakit NCD belakangan ini
sering dikaitkan dengan 1000 hari kelahiran pertama, konsep DOHaD, serta teori
barker dan perinatal epidemiology. Hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa
kualitas dari sebuah generasi ditentukan oleh generasi sebelumnya. Oleh sebab
itu, ketiga konsep tersebut diatas merupakan konsep penting lahirnya sebuah
generasi yang berkualitas, baik secara intelektual maupun secara fisiknya
(Kesehatan).
B. Pembahasan
1. 1000 Hari Pertama Kehidupan
Istilah “the first thousand days” atau 1000 hari pertama kehidupan
diperkenalkaan pertama kalinya oleh WHO (World Health Organization) pada tahun
2010 dalam program "Scalling-up Nutrition
(SUN) Movement" atau
Gerakan Peningkatan Nutrisi demi
mensukseskan gerakan Millenium Development Goals
(MDGs) di tingkat dunia yang memiliki peran penting dalam peningkatan
kualitas kehidupan manusia dimasa dewasa (Yuwono, 2015). Adapun pengertian dari 1000 hari
pertama kehidupan adalah masa dimulainya terlambat haid seorang wanita sampai
dengan lahirnya seorang bayi dan umur bayi mencapai tepat dua tahun.
Status gizi masyarakat sering
digambarkan dengan besaran masalah gizi pada kelompok anak balita. Kekurangan
gizi pada balita dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan fisik dan
perkembangan mental serta kecerdasan, bahkan dapat menjadi penyebab kematian(Achadi et al., 2012).
Dampak dari defisiensi gizi dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Anak
yang kurang gizi mengalami penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan
ini akan menimbulkan perkembangan anak yang buruk. Keadaan gizi kurang
mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak, yang akan
berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak. Kegiatan pemantauan balita
gizi kurang atau buruk merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui dengan
cepat kasus gizi buruk di masyarakat.
Masalah gizi dapat terjadi
pada seluruh kelompok umur, bahkan masalah gizi pada suatu kelompok umur
tertentu akan mempengaruhi status gizi pada periode siklus kehidupan berikutnya
(intergenerational impact).
Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu keberhasilan
pertumbuhan dan perkembangan anak di periode selanjutnya. Indeks beratnya
masalah gizi balita menurut World Healty Organization (WHO) didasarkan pada masalah gizi
buruk, wasting dan stunting yang
ditemukan pada suatu wilayah survey. Prevalensi wasting (kurus) dikatakan tinggi bila diatas
10-14% dan sangat tinggi bila ≥ 15%, dan prevalensi stunting (pendek) dikatakan tinggi bila diatas
30-39% dan ≥ 40%. Pada tahun 2013, secara nasional prevalensi kurus pada
anak balita masih 12,1 persen, yang artinya masalah kurus di Indonesia masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius (Riskesdas, 2013). Dilihat
dari beratnya masalah gizi menurut WHO, maka masalah gizi pada anak balita di
Indonesia tergolong sangat tinggi dan menjadi masalah yang sangat serius untuk
ditangani.
Perkembangan terkini
menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada masa janin dan usia 2 tahun pertama
kehidupan berpengaruh sangat penting terhadap risiko terjadi berbagai penyakit
tidak menular yang kronis pada usia dewasa (Achadi et al., 2012).
Penyataan tersebut didukung oleh pernyataan Murti (2011)
yang menyatakan bahwa hasil-hasil studi epidemiologi sepanjang hayat (life course epidemilogy)
menunjukkan fondasi kesehatan di usia dewasa telah diletakkan sejak dini pada
awal kehidupan sebelum dan setelah kelahiran. Dampak malnutrisi pada masa
anak-anak terhadap orang dewasa di Indonesia dengan semakin banyaknya anggota
masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti
diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Adianti Handajani, Betty
Roosihermiatie, Herti Maryani, 2010).
Untuk itu, perlu dilakukan
intervensi sejak dini untuk mencegah terjadinya defisiensi gizi pada
masa-masa awal kehidupan terutama pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK) untuk
meminimalkan terjadinya kasus penyakit kronik degeneratif pada masa dewasa. Penelitian
Shrimpton et al. (2001)
menjelaskan bahwa Intervensi selama awal periode kehidupan, sebelum lahir dan
selama masa bayi dan awal masa anak-anak cenderung memiliki dampak terbesar
dalam mencegah kekurangan gizi anak. Jenis intervensi termasuk pendidikan gizi,
budaya diet yang tepat dan serta konseling gizi.
Gizi dan kesehatan anak mulai
ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak
terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua,
terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa
depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan
kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Achadi et al. (2012)
menjelaskan periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun
pertama kehidupanberpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber daya
manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitas fisik, tetapi juga kualitas
kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.
Masalah gizi di Indonesia
selama ini masih menjadi prioritas utama pemerintah. Berdasarkan hasil
Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas tahun 2010),
persentase BBLR di Indonesia sebesar 8,8 persen, anak balita
pendek sebesar 35,6 persen, anak balita kurus sebesar 13,3 persen, anak balita
gizi kurang sebesar 17,9 persen, dan anak balita gizi lebih sebesar 12,2
persen. Hasil riset ini menunjukkan bahwa bangsa kita memilki beban gizi
yang bersifat ganda, dimana salah
satu sisi mengalami kekurangan gizi sedangkan di sisi lain mengalami kelebihan
gizi. Adapaun akibat yang ditimubulak daria masalaaha tersebut bisa dalam
jangka pendek atau jangka panjang yang semuanya mempengaruhi kehidupan negara
Indonesia. Adapun masalah yang ditimbulkan dalam jangka pendek yaitu
terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik, dan
gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan, dalam jangka panjang dampak buruk
yang timbul yaitu menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar,
menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk
munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah,
kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua. Hal-hal tersebut akan menurunkan
kualitas sumber daya manusia Indonesia,
produktifitas, dan daya saing bangsa(Depkes, 2013).
Masa 1000 Hari Pertama
Kelahiran (HPK) yaitu masa selama 270 hari (9 bulan) dalam kandungan ditambah
730 hari (2 tahun pertama) pasca lahir. Pada masa ini merupakan masa-masa
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan janin yang akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan pasca lahir dan dewasa, karena sebagian besar
organ dan sistem tubuh terbentuk pada periode ini. Menurut (Achadi et al., 2012)
Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama yang berhubungan sangat erat
dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan janin dan bayi
direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh kritis dan dampak jangka
panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin semakin dipertegas oleh
berbagai bukti pendukung. Menurut Wilkinson dan Marmot, (2003) dalam Murti (2011)
menyatakan bahwa keadaan yang buruk selama kehamilan, seperti defisiensi
nutrisi selama kehamilan, stres maternal, olahraga yang tidak cukup (ibu hamil
juga memerlukan senam), dan perawatan prenatal yang tidak memadai, dapat
menyebabkan perkembangan fetus yang tidak optimal. Perkembangan fetus yang
buruk merupakan resiko kesehatan pada kehidupan selanjutnya.
Dampak malnutrisi pada masa
anak-anak terhadap orang dewasa adalah dengan semakin banyaknya anggota
masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti
diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi (Nurhaedar Jafar, 2011). Penyakit
tidak menular atau penyakit degeneratif sejak beberapa dasawarsa silam telah
menjadi segmentasi permasalahan tersendiri bagi tiap negara di seluruh dunia.
Hingga saat ini penyakit degeneratif telah menjadi penyebab kematian terbesar
di dunia. Hampir 17 juta orang meninggal lebih awal setiap tahun akibat epidemi
global penyakit degeneratif.
Di Indonesia transisi
epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana penyakit
kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Penyakit degeneratif merupakan
penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung,
hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya (Adianti Handajani, dkk., 2010).
Lebih lanjut dikatakan oleh Achadi et al. (2012)
prevalensi berbagai penyakit tidak menular di Indonesia tergolong tinggi,
antara lain hampir sepertiga penduduk dewasa menderita penyakit tekanan darah
tinggi. Oleh sebab itu, pada masa yang akan datang, Indonesia dihadapkan pada
beban yang berat akibat biaya penatalaksanaan yang tinggi dan produktivitas
penduduk yang rendah akibat penyakit tersebut. Sehingga Indonesia menanggung
beban gandapenyakit di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi masih
merajalela dan ditambah lagi dengan penyakit penyakit kronik degeneratif.
Achadi et al. (2012)
menjelaskan bahwa keterlambatan pertumbuhan pada seribu hari pertama tersebut
menyebabkan perubahan permanen pada bayi. Apabila setelah periode tersebut
terjadi perubahan lingkungan yang mendukung pertumbuhan yangcepat, maka tubuh
dan fungsiorgan tidak dapat menyesuaikan diri sehinggameningkatkan risiko
berbagai penyakit kronis.Pertumbuhan pada periode seribu hari pertama
yangberhubungan sangat erat dengan kemampuan ibu menyediakan zat gizi yang
dibutuhkan janin dan bayi direpresentasikan oleh status gizi ibu. Pengaruh
kritis dandampak jangka panjang status gizi ibu terhadap perkembangan janin
semakin dipertegas oleh berbagai buktim pendukung. Hasil penelitian Kattula et al. (2014)
menyatakan bahwa Efek gizi kurang di dalam kandungan dapat memanjang ke 3
generasi, seperti diindikasikan oleh hubungan antara ukuran TB nenek dan berat
badan lahir bayi yg dilahirkan oleh wanita dalam studi kohor tersebut.
2. Teori Developmental Origins
Of Health And Disease (DOHaD)
Konsep Development Origins of Health and Disease (DOHaD)
Merupakan sebuah konsep yang dalam mempersiapkan kehamilan dengan
mempertimbangkan keseimbangan gizi pada fase awal kehidupan. Kualitas kesehatan
seseorang ketika hidup sangat dipengaruhi oleh nutrisi yang diasup ibu sebelum
dan selama kehamilan. Para ibu yang kekurangan gizi terutama pada masa
kehamilan beresiko melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Jika hal tersebut
terus berlangsung, maka anak beresiko menderita pengakit kronis (NCD) pada saat
dewasa (Uauy et al., 2011).
Pemenuhan
asupan vitamin yang seimbang merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga
nutrisi ibu selama masa atau pasca kehamilan. Status vitamin yang memadai
merupakan prasyarat untuk pembangunan kesehatan pada awal kehidupan yang juga
akan mempengaruhi orang kesehatan dan kesejahteraan saat dewasa. Sebuah diet
seimbang yang sehat selama kehamilan dan menyusui bayi adalah sumber terbaik
dalam memperoleh nutrisi penting dalam pemenuhan gizi untuk wanita hamil (Elmadfa & Meyer, 2012).
Barker (2007) menemukan ada
serangkaian tahapan yang kritis dalam perkembangan anak. Jika tahapan tersebut
dilalui tidak sempurna maka akibatnya akan timbul di kemudian hari saat anak
dewasa dan tua. Masalah kesehatan yang muncul bisa ditelusuri kembali dengan
melihat riwayat saat si anak di dalam rahim atau perkembangannya yang buruk di
2 tahun usia pertamanya. Barker memberi contoh ibu yang mengonsumsi gizi buruk
saat hamil, merokok, stres atau minum obat-obatan akan mempengaruhi seberapa
baik plasenta bekerja dan bagaimana kondisi berat badan bayinya saat lahir. Barker (2007) juga menjelaskan hasil
penelitiannya menunjukkan bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg maka peluangnya
terkena penyakit jantung di kemudian hari, 2 kali lebih besar dibandingkan bayi
yang lahir dengan berat sampai 4,2
Kg .
Barker (2007) juga menjelaskan
ketika makanan di rahim tidak mencukupi, itu sangat mempengaruhi pertumbuhan
awal otak si janin dan membuat jantungnya melemah karena berkurangnya aliran
darah. Lalu bibit-bibit diabetes juga akan muncul sebelum proses kelahiran
karena sel-sel pankreas yang berfungsi membuat insulin, perkembangannnya ada di
dalam rahim. Kondisi di dalam rahim juga akan mempengaruhi berat badan si anak
di masa mendatang. Banyak faktor-faktor yang terbentuk sejak dini yang tidak
bisa diubah atau dibatalkan. Maka itu penting untuk menjaga kesehatan perempuan
dan makan dengan baik agar generasi berikutnya tumbuh dengan baik.
3. Asosiasi NCD Dengan 1000 Hari Pertama kehidupan
Dan DOHaD kaitannya dengan NCD
Tingginya angka NCD
belakangan ini bersamaan dengan lambatnya pertumbuhan status gizi di Indonesia,
Transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola penyakit, di mana
penyakit kronis degeneratif sudah terjadi peningkatan. Penyakit degeneratif
merupakan penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit
jantung, hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya (Adianti Handajani, dkk.,
2010).
Gizi dan kesehatan anak mulai
ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak
terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua,
terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa
depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan
kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Achadi et al. (2012)
menjelaskan periode perkembangan janin di dalam kandungan dan selama dua tahun
pertama kehidupanberpengaruh terhadap berbagai aspek kualitas sumber daya
manusia. Tidak semata-mata mencakup kualitas fisik, tetapi juga kualitas
kognitif dan risiko terhadap kejadian penyakit kronis.
Konsep Development Origins of Health and
Disease (DOHaD) Merupakan sebuah
konsep yang dalam mempersiapkan kehamilan dengan mempertimbangkan keseimbangan
gizi pada fase awal kehidupan. Kualitas kesehatan seseorang ketika hidup sangat
dipengaruhi oleh nutrisi yang diasup ibu sebelum dan selama kehamilan. Para ibu
yang kekurangan gizi terutama pada masa kehamilan beresiko melahirkan bayi
dengan berat badan rendah. Jika hal tersebut terus berlangsung, maka anak
beresiko menderita pengakit kronis (NCD) pada saat dewasa (Uauy et al., 2011).
1000 hari pertama kehidupan
dan DOHaD diasosiasikan memiliki hubungan dengan pola pertumbuhan,
komposisi struktur tubuh dan akhirnya mempengaruhi pola penyakit yang terjadi
di usia dewasa, selanjutnya berat badan lahir rendah yang diakibatkan oleh
diabetes meningkatkan resiko metabolik, tekanan darah, penyakit cardiovasculer dan kematian. Penerapan
gizi seimbang dalam 1000 hari pertama kelahiran menyesuaikan dengan kondisi
bayi pada saat dalam kandungan agar pada saat kelahiran bayi tersebut tidak
mendapatkan asupan gizi berlebihan sesuai dengan kondisi sebelumnya. 1000 hari
pertama kelahiran bertujuan untuk meningkatkan gizi janin dalam masa intra uterin sehingga tidak lahir dalam kondisi BBLR dan
jika hal ini pun terjadi maka seorang ibu harus memberikan asupan gizi secara
bertahap tidak berlebihan agar bayi tidak menjadi obesitas dalam waktu singkat(Uauy et al., 2011).
C. Kesimpulan
Keadaan kasus penyakit NCD
yang semakin memprihatinkan membuat ahli epidemiologi berpikir untuk membuat
trobosan baru dalam mengatasi penyakit tersebut. Konsep 1000 hari pertama
kehidupan merupakan konsep yang diciptakan dengan tujuan untuk mempersiapkan
kehamilan ibu serta di asosiasikan dengan konsep DOHaD dimana asupan gizi yang
seimbang merupakan faktor penting bagi ibu hamil baik sebelum dan selama
kehamilan.







0 comments:
Post a Comment